41ee8b61-cd3a-478c-8a06-84bdae5abfa7

Kembang kempis perajin tempe tahu pada masa pagebluk

1,997 • Dipublish 1 Oktober 2020

Pagebluk alias pandemi Covid-19 menyebabkan salah satu industri tempe di Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, terkena dampak negatif.

Permintaan penghasil protein termurah ini menyusut seperempatnya. Pembatasan sosial dituding sebagai loyonya permintaan tempe, terutama karena warung nasi tegal (warteg) banyak yang tutup.

Tak cukup sampai di situ, peningkatan harga kedelai jadi masalah baru bagi para perajin. Harga kedelai yang pada awal tahun Rp6.000 per kg, hingga saat ini harganya melonjak menjadi Rp7.500 sampai Rp8.000 per kg.

Untuk menyiasati turunnya omzet, Sahroni, salah seorang pengusaha tempe di Semanan, terpaksa memotong upah para pekerja alih-alih mengurangi pegawai.

Indonesia masih bergantung kedelai impor. Tingginya harga kedelai di pasar internasional, membuat beberapa importir menyediakan kedelai kelas dua yang mutunya buruk. Ini salah satu yang membuat kerugian perajin rugi makin besar.

Pengurus Primer Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) Handoko menyerukan agar pemerintah dapat swasembada kedelai. "Karena kedelai kita itu paling enak sebetulnya, tapi nggak tau produksinya kok nggak bisa," ujarnya.

0 Komentar

0/200