207c28af-92a3-434c-9566-c2b64d9cae62

Indonesia Butuh Pemilu Elektronik?

490 • Dipublish 24 April 2019

Banyaknya petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) yang meninggal jadi peringatan keras buat KPU. Jangan sampai kejadian ini terulang di pemilu-pemilu selanjutnya. Lagian banyak kok solusi biar penghitungan suara gak dilakukan secara manual, misalnya melalui e-voting. Proses voting secara elektronik sendiri bukanlah sesuatu yang asing. Lembaga Internasional Pemilu dan Demokrasi (IDEA), yang berkantor pusat di Stockholm, Swedia, menyebut sudah ada sekitar 32 negara yang menerapkan electronic voting dalam kegiatan pemilunya. Negara-negara tersebut antara lain Swiss, Kanada, Australia, AS (hanya di beberapa negara bagian), Jepang, Korea Selatan, hingga India. India merupakan contoh yang tepat bila berbicara tentang electronic voting. Sistem coblosan secara elektronik ini sudah diterapkan sejak beberapa dekade silam, tepatnya saat pemilihan Majelis Konstituante di Kerala pada 1982. Dalam setiap coblosan, Komisi Pemilihan Umum India (EC) menyiapkan alat bernama Electronic Voting Machine (EVM). Mesin ini terdiri atas dua bagian: unit kontrol dan pemungutan suara, keduanya terhubung dengan kabel sepanjang lima meter. Unit kontrol ditempatkan di dekat petugas, sementara unit pemungutan suara berada di dalam kotak atau bilik bersama para pemilih. Agar pemilih dapat menyalurkan suaranya, mereka diminta menekan satu dari sekian tombol yang berisikan keterangan kandidat maupun daftar partai politik dan diletakkan di samping unit pemungutan suara. Melalui salah satu poin di siaran pers-nya, Perludem (Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi) juga ikut mendorong agar teknologi ini digunakan di pemilu-pemilu mendatang. Walau praktis, namun banyak juga yang menentang dengan alasan rawan di-hack. Tapi harusnya tetap gak masalah sih, soalnya kan kita punya banyak waktu buat ngembangin sebelum pemilu 2024 nanti. Gak mau kan, kalau sampai jatuh korban lagi?

0 Komentar

0/200