0bbe8e86-f4a5-4c9b-b2bd-bdf565ccb197

PAK ANIES KOK BISA LUPA SAMA ATURANNYA SENDIRI?

14,606 • Dipublish 21 Desember 2020

Saat Mr. Kece bangun pagi, dia sering melihat kabut di langit Jakarta. Mr. Kece mengira udara Jakarta pagi itu segar seperti di puncak. Ternyata, kabut yang dilihat itu berbeda dengan kabut yang ada di puncak. Menurut BMKG, itu adalah kabut lapisan inversi udara yang mengandung akumulasi partikel polutan lebih tinggi.

Bukannya segar, kualitas udara Jakarta malah berbahaya. Mr. kece heran, mengapa kualitas udara Jakarta tak juga membaik. Padahal, sejak Agustus 2019 lalu, Gubernur DKI Jakarta sudah menerbitkan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara. Ingub itu berisi 14 langkah percepat pengendalian kualitas udara di Jakarta. Mulai dari meningkatkan monitoring kualitas udara, pengembangan kawasan bebas kendaraan bermotor, peningkatan ruang terbuka hijau, hingga menegakkan hukum atas pelanggaran peraturan.

Tapi, 14 langkah itu seperti tak berpegaruh kepada kualitas udara Jakarta. Padahal, kualitas udara yang baik sangat diperlukan masyarakat di tengah kondisi pandemi seperti ini. Apakah 14 instruksi tadi tidak berjalan maksimal di lapangan?

0 Komentar

0/200