Yang Tersisa di Wisata Dieng

382 • Dipublish 10 Juli 2019

Fenomena alam kedatangan “Salju Tropis” setiap tahun di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah selalu menarik wisatawan berkunjung kesana. Tahun ini salju tropis yang akrab dikenal penduduk setempat dengan Embun Upas ini datangnya lebih awal,  yakni pertengahan Bulan Juni.
          Tentu saja datangnya embun membeku dikawasan wisata Dieng ini menarik ratusan pengunjung setiap harinya terutama di pelataran sekitar Candi Arjuna. Di dataran tinggi yang terdapat banyak bangunan candi Hindu ini, sebetulnya bekas sebuah kaldera gunung berapi yang sampai sekarang masih memperlihatkan aktifitasnya.
Dieng yang berasa diketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut ini berasal dari bahasa Kawi Di dan Hyang.  Di Hyang ini arti tempat para dewa, atau kediaman para dewa dalam mitos agama Hindu. Maka diawal agama Hindhu masuk di Pulau Jawa, di dataran tinggi yang dianggap suci ini dibangun puluhan candi di abad ke 6.
Tetapi  sesuai perkembangan jaman, dataran tinggi yang diapit oleh bukit-bukit ini sekarang menjadi tempat tujuan wisata utama Indonesia. Selain panorama yang indah dengan udara nya yang sejuk, perpaduan alam, bangunan candi, dan ladang pertanian menjadi daya tarik tersendiri kawasan wisata yang terletak diantara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara ini.
Suhu dataran tinggi Dieng malam hari berkisar 6-10 derajad celcius, siang 12-20, dan musim kemarau seperti sekarang ini bisa minus 8 derajad celcius. Udara 0 sampai  minus 8 derajad inilah yang membentuk embun membeku atau salju tropis seperti sekarang ini. Kehadiran Embun Upas yang mematikan tanaman pertanian ini sangat merugikan karena gagal panen. Sebuah musibah bagi petani Dieng , tetapi mendatangkan berkah dari dunia wisata.
Saat musim embun beku tiba, ratusan hingga ribuan pengunjung rela berdatangan di pagi subuh, bahkan tak sedikit yang menginap di kawasan Dieng hanya untuk bisa melihat salju tropis ini. Suasana pagi antara pukul 05.00 hingga 07.00 merupakan puncak indahnya panorama Dieng dengan hamparan salju tipis yang menghiasi permukaan tanah.
Lapangan rumput, tumbuhan alang-alang ,tanaman pertanian, serta pelataran Candi Arjuna dihiasi embun membeku. Bahkan saat mentari muncul di atas Bukit Prau, sebuah keindahan alam menyeruak dikawasan yang dekat dengan Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro ini. Sebuah wisata alam yang sempurna yang menjadi pemikat wisatawan untuk selalu berkunjung ketempat ini.
Tapi sayangnya, pelataran kediaman para dewa ini tidak dijaga kebersihannya oleh para pengunjung. Ditengah keindahan alam ini terlihat tumpukan sampah berserakan diantara rumput yang membeku. Pengunjung seolah tidak peduli membuang sampah disembarang tempat. Sampah-sampah bekas bungkus makanan dan minuman pengunjung ini berbaur diantara indahnya rumput ilalang dan hamparan rumput hijau yang membeku.
Begitu juga diarea kawasan Candi Arjuna yang megah ditengah kaldera Dieng, pengunjung dengan seenaknya membuang sampah disembarang tempat. Padahal dibeberapa sudut halaman candi sudah disediakan tempat sampah tersendiri. Dan kitapun prihatin dan mengelus dada, masyarakat kita belum mempunyai kesadaran pentingnya sebuah kebersihan dan keindahan. Kalau ditempat kediaman para dewa saja mereka membuang sampah sembarangan, apalagi dikediaman rumah mereka sendiri.

0 Komentar

0/200